https://static1.freebitco.in/banners/728x90-3.png

Minggu, 17 November 2019

HMI MPO Politani Pangkep Luluskan 19 Kader Baru


Sebanyak 19 peserta Latihan Kader  (LK) I (Basic Training) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Politeknik pertanian negeri (politani) Pangkep dinyatakan lulus. Awalnya perserta sebanyak 21 orang.

Namun hasil seleksi dan penilaian panitia saat training berlangsung hanya 19 yang di nyatakan lulus menjadi kader organisasi kemahasiswaan yang biasa disebut hijau-hitam.


Latihan yang dilaksanakan pada Jumat – Minggu, 15-17 Oktober 2019 di Mandalle  Kabupaten pangkep berlangsung sukses sampai akhir pelaksanaan.

Awi, Ketua Umum HMI Cabang pangkep mengatakan, tujuan dilaksanakan  LK I adalah terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas,ulil albab, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi.

“Serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa,” kata Awi

Menurutnya, target yang diharapkan pasca LK I HMI dapat dilihat dengan indikator sebagai memiliki kesadaran menjalankan ajaran islam dalam kehidupan sehari hari.

“Misalnya menjalankan ibadah secara rutin, baik dan teratur). Kemudian  mampu meningkatkan kemampuan akademis (IP meningkat),” katanya.


Tak terkecuali kader HMI dapat memiliki kesadaran akan tanggungjawab sebagai sosial pengawasan negara dan kebangsaan. Kader mampu berperan dalam kehidupan masyarakat, kampus,  lingkungan serta yang lain.

“Dan kader HMI memiliki kesadaran berorganisasi yang aktif dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan. Aspek  focus target kesadaran kritis membentuk daya berpikir kritis para kader metode berpikir kritis,”  tambahnya.

Terakhir Awi mengharapkan kader baru HMI yang dinyatakan lulus dapat menjalankan kualitas insan cita sebagai tujuan HMI dalam terbinanya mahasiswa islam menjadi insan ulil albab atas terwujudnya masyarakat adil Makmur yang di ridhoi Allah Swt.

“kegiatan ini dimentori oleh Muh Iqbal Ketua Hmi cabang Barru yang dimandat sebagai Pemandu oleh Badko sulselbar,
Menurut iqbal HMI Cabang pangkep perlu spirit perjuangan dan perkaderan yang merata dan full, sehingga nantinya bisa menjadi cabang yang kuat dan bersaing  menjadi cabang yang mapan" tutupnya

Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari HMI cabang makassar, dan cabang Barru serta di buka oleh Abd Mujib Ketua Korwil II Badko Sulselbar.

Kamis, 14 November 2019

Gelar Baksos Jelang LK II Ini Pesan KOHATI Cabang Barru


Bakti Sosial dalam rangka persiapan Intermediate training (LK II) HMI MPO Cabang Barru di Bappeda Lama (Jumat, 15/11/19). Turut hadir pengurus HmI Cabang Barru dan pengurus komisariat Serta Kohati.
Dalam kegiatan tersebut Nurmi salah satu pengurus Cabang menyatakan Kita harus membersihkan seluruh ruangan dari sekarang untuk memenuhi kebutuhan peserta agar peserta nantinya merasa nyaman, karena kebersihan juga sebagian dari Iman, seperti yang kita ketahui Intermediate Training kali ini akan menghadirkan peserta dari beberapa cabang dari luar Barru.

Mahasiswi STIA AL Gazali Barru ini juga menyampaikan kepada seluruh kader terkait kondisi cuaca dalam waktu dekat ini "Dengan kebersihan kita juga menghidari masalah penyakit apalagi dengan kondisi saat ini sudah masuk musim hujan.

Kegiatan harus kita sukseskan bersama Baksos ini diharappkan semoga kita bisa mencegah segala penyakit yang akan datang pada diri khususnya di lokasi lingkungan sekretariat dan area forum perkaderan.

Selanjutnya khusus calon peserta intermediate training ini kita baik untuk internal sendiri maupun dari peserta dari cabang luar untuk terus menjaga kebugaran dalam segala aktivitas, sehingga peserta yang tadinya datang dengan sehat-sehat dari daerahnya usai selesai mengikuti Intermediate Training sehat-sehat pula pulang ke daerahnya masing-masing. Tutup Nurmi

Selasa, 03 September 2019

SEMANGAT KEMANUSIAAN KKLP STIA AL GAZALI BARRU PEDULI WARGA LIPUKASI



Sabtu 31 Agustus 2019, KKLP STIA Al Gazali barru desa lipukasi yang di ketuai oleh Meri Aswandi Linda sebagai sekertaris bendahara Risma Damayanti dan Rusli, Asrul, Andika Hasmuliya, Sartina, Khadija Rahma, Astika,Walafiya Anwar Nurul Hikmah, Sartina dan Wiwi Amriani masing masing sebagai anggota di bawah bimbingan dosen Mukmin muhammad.S.sos.Mh telah melaksanakn beberapa program peduli sosial bagi masyarakat.

Di Desa lipukasi warga yang kurang mampu menjadi sasaran untuk enam dusun di lipukasi program ini sebelumnya telah mendapat rekomendasi dari tiap kepala dusun. Harapan Program ini di laksanakan dengan maksud meberikan bantuan infak serta beberapa sentuhan dari mahasiswa.

 Meri aswadi menyampaikan Bahwa seberapa sukses nya kita tapi tidak peduli dengan orang-orang yang tidak mampu maka anda itu jauh dari harapan kemanusiaan. Maka dari itu kami harap supaya orang -orang diluar sana bisa tersentuh hatinya melihat orang-orang yang benar-benar membutuhkan dari kita.

Kami mendapatkan ide untuk memberikan bantuan di desa lipukasi dengan memberikan saluran seadanya untuk tiap dusun yaitu untuk 6 orang. Selanjutnya linda berpesan mewakili teman kami jangan pernah berhenti bersyukur untuk nikmat yang anda miliki dan jangan pernah mengeluh ketika anda di beri cobaan hingga kita tak pernah lupa bahwa ada orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita.

 Karena salah satu kesuksesan seseorang itu lebih di dominasi oleh sedekah kepada orang lain."ucaap Linda sekertaris kelompok posko lipukasi, Semoga dengan tulisan ini orang-orang di luaran sana bisa lebih termotivasi untuk tetap melihat kondisi orang lain di sekitarnya. Tutupnya.


Kontributor ; Linda 

Senin, 26 Agustus 2019

Seminar proker KKL STIA AL Gazali Dessa Ajakkang



Mahasiswa KKLP STIA AL-GAZALI BARRU Desa Ajakkang kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru Telah Melaksanakan seminar program kerja Pada Hari Senin 26 Agustus 2019 Dalam Seminar Program Kerja yg dipaparkan oleh Andi Fiqih selaku Koordinator Desa ada beberapa program kerja yang diusung salah satunya Pengenalan Potensi Desa Ajakkang Melalui Media Sosial dalam sambutannya.

Acara seminar tersebut dibuka resmi oleh Sekretaris Desa Ajakkang bapak Ibnu Rusli mewakili Kepala Desa Ajakkang didalam acara tersebut dihadiri pula oleh Dosen Pembimbing KKLP XVI, ketua BPD, Kepala Dusun, Ketua RT, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Perempuan, Tokoh Pemuda, Aparatur Desa, dan karang taruna

Dosen Pembimbing KKLP Desa ajakkang Asriani SE., MM samgat Menitipkan pesan kepada Mahasiswa KKLP Desa Ajakkang untuk selalu menjaga sholatnya dimanapun kita berada sebagai bentuk pengimplementasian visi misi kampus STIA AL-GAZALI BARRU yang bernafaskan keagamaan
STIA AL-GAZALI BARRU yang memiliki Motto "Damai Tenang Mencerahkan" tutupnya.



Kotributor : Andi Fiqih

Minggu, 25 Agustus 2019

KKLP Desa Palakka STIA Al Gazali adakan Seminar Proker


KKLP STIA AL Gazali Barru Desa Palakka melaksankan seminar program kerja
Rabu, 24 agustus 2019 di balai desa palakka mahasiswa KKLP gel.XXVIII 2019 telah melalukan seminar program kerja kklp selama berada didesa palakka

Di hadiri oleh pemerinta desa palakka, pembimbing dosen dan warga palakka menghadiri seminar pada hari ini


Adapun program kerja yang akan di laksanakan di desa palakka selamah 1 bulan ke depan yaitu ada 12 program
Diantara nya adalah
Pelatihan bimbingan teknologi berbasis online terkhusus untuk para kepala dusun dan kepala rt.

Pengharapan dari pak sekdes palakka tak perlu banyak proker, walaupun sedikit tapi dapat terealisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat desa tutupnya.


Kontributor : Satir  Lapmi

Mahasiswa KKLP STIA AL GAZALI BARRU GEL. XXVIII TAHUN AKADEMIK 2018/2019 DESA LIPUKASI KEC. TANETE RILAU KAB. BARRU



Program kerja kolegtif yang di adakan oleh mahasiswa di desa lipukasi diantaranya bimbingan tadarrus di masjid Nurul Aini, kegiatan bimbingan ini mendapat sokongan oleh masyarakat dan bapak kepala desa Maharuddin,Menurutnya
Bimbingan yang di lakukan oleh mahasiswa ini bermaksud supaya mulai dari dini kita harus menetapkan komitmen bahwa apapun yang harus di kerjakan tetap berpedoman pada Al-Quran.

Sesuai dengan motto kelompok "Tidak ada kesuksesan tanpa bimbingan" Meri aswandi salah satu kordinator kampus memaparkan bahwa
Bimbingan dalam artian siapa pun bisa menjadi pemberi arahan dan bimbingan selagi ia memang faham Dan ilmu seseroang itu akan lebih berfaedah apa lagi di sampaikan kepada orang lain tentu kami tak berhenti berharap support dari
Dosen pembimbing kami bapak Mukmin Muhammad, MH dan tentunya Ketua ketua STIA AL Gazali Barru bapak Dr. H Kamaruddin Hasan M.Pd Tutupnya.


Kontributor : Linda 

Kamis, 14 Maret 2019

Mr Syafii Efendi, Bakar Semangat Milenilals Barru

HmiBarruNews.com - Barru
Seminar Motivasi Nasional dilaksanakan oleh Wirausaha muda nusantara (DPD WIMNUS Sulawesi Selatan) bertemakan Winning In Disruptive Era yang dihadiri Mr Syafii Efendi di Gedung Islamic Center Barru Kamis (14/3/2019).

Sekitar 840 milenial mulai santri, pelajar hingga mahasiswa sampai ibu-ibu dari berbagi stakeholder hadir dalam Seminar Motivasi Nasional Winning In Disruptive Era Kehadiran Ketua Indonesian Entrepreneur Club (IEC), Syafii Efendi sebagai trainer dan motivator termuda di Indonesia dengan segudang penghargaan ini telah lama dinantikan kehadirannya kembali di kabupaten barru, terbukti dengan sesaknya peserta yang mengantri di pelataran islamic center.


Peserta antusias menyaksikan Syafii yang merupakan penulis Buku Best Seller 10 Langkah Sukses di Usia Muda merupakan motivator ternama yang sudah berkeliling Indonesia hingga ke berbagai negara.


Bertema Winning In Disruptive Era, Syafii bercerita melalui video. Berbagai video yang merupakan realita yang terjadi di Indonesia dimana generasi muda diperbudak gaya. Ia juga memberi gambaran kemajuan teknologi dimana kedepannya semua tenaga kerja diganti mesin.


"Dalam materi yang disampaikan perubahan adalah tuntutan, teknologi akan menggantikan peran manusia, akibatnya kebangkrutan kalah bersaing dan kemiskinan. Bahkan di negara maju, driver akan diganti teknologi otomatis. Kemana peran kurir kantor pos. Ini ancaman untuk kalian," ungkapnya.


Agar tidak diskriminatif merasa tertindas hingga akhirnya menyeru kebencian atas kemiskinan meminta anak muda menjadi pelaku usaha, selain kemajuan teknologi, anak muda saat ini terancam serbuan tenaga kerja asing. "Itu lah kenapa kita harus membangun karakter sukses mulai sekarang," ujarnya.

Syafii, begitu sulit menanamkan karakter sukses. Apalagi saat ini milenial dibayangi oleh gadget dan pergaulan bebas. "dan jadi masalah adalah adalah mental, merubah kebiasaan tidak mudah," lanjutnya

"Nilai uang semakin turun kebutuhan semakin meningkat sedangkan gaji tetap tidak meningkat. Jadi, jangan mau hanya menjadi PNS, jadilah pengusaha buka usaha. Jadi lah pemberi kerja, membuka lapangan kerja. Banyak peluang di depan sana, asal mau berusaha dan membentuk karakter sukses dari sekarang," ujarnya.
Data BPS yang mencatat pengangguran bertambah 300 ribu menjadi 7,45 juta kata Syafii harusnya direspon anak muda dengan semangat sukses. 


"Kuliah penting yang lebih penting membentuk karakter sukses diri sendiri. Rata-rata di Indonesia 90 persen orangtua di usia lanjut masih bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Itu lah perlunya mandiri secara ekonomi, waktu terasa cepat, yang kuliah akan segera nikah, perlu duit, bukan cinta," ujarnya.

Pada usia 22-26 tahun lumrahnya kata Syafii seseorang akan akan dituntut uang sekitar Rp500 juta untuk keperluan rumah dan menikah. Jika jadi karyawan diakuinya bisa menabung, tapi perlu puluhan tahun. Realitanya hari ini hanya 3 persen pria yang berhasil melewatinya dan 97 persen gagal melewati tantangan ini.

Sementara itu Ramli Asal mahasiswa Madura yang menuntut ilmu di STAI DDI Mangkoso salah satu peserta seminar menyampaikan kegiatan ini berhasil menghipnotis kami sebagai pelajar, yang memiliki cita-cita ingin sukses, kami rasakan motivasi ini akan kami ingat terus. Tutup Ramli

Kegiatan seminar ini di apresiasi sangat baik Akbar Faisal dewan pembina wira usaha muda nusantara yang pada sambutannya dalam membuka  kegiatan tersebut.

"Seminar ini diharapkan menumbuhkan minat dan motivasi wirausaha dalam bidang masing masing dan kemampuan yang dimiliki para pemuda, serta dapat mengubah kabupaten barru semoga lebih baik dan potensial kedepannya" tutup Anggota DPR RI Komisi III.

Rabu, 09 Januari 2019

Jelang konfrensi Ke XI HMI Cabang barru pada februari mendatang, Ketum cabang perkuat konsolidasi.



Sabtu 5 Januari para pentolan hmi cabang barru berkumpul di alun-alun kota mendiskusikan persiapan konfrensi cabang dan penguatan internal hmi cabang Barru,
Menurut ketua cabang Muhammad reski bahwa saat ini kader kita sudah masing-masing memenuhi standar kualitas, dan beberapa diantara mereka menjadi pimpinan di organsasi kampus, maka kita tentu memiliki potensi yang ideal itu melahirkan bagi penerus cabang barru ke masa depan yang lebih baik.

"Kita harus memilih dengan melihat siapa yang bisa lebih melambungkan organisasi kedepan. Ungkapnya"

Dalam konsolidasi tersebut juga dihadiri ketua ketua komisariat, yakni abdul mujahidin komisariat Akper yapi, Reski nanang komisariat STIA Al Gazali Barru, Edi Wijaya ketua komisariat tanete raya dan PJ Ketua Kohati Asrah.

Edi Wijaya menyampaikan pada intinya kita harus tetap melahirkan generasi penerus yang pejuang, namun kita harus ketahui bersama bahwa rumah kita sedang dalam keadaan berbenah, dimana kita hendak berteduh jika bukan dirumah kita, masa mau dirumah orang lain.

Muhammad reski berharap bahwa saat ini pilihannya adalah memperkuat komunkiasi dan koordinasi setelah ini kita bekerja bersama-sama siapapun pimpinan cabang nantinya saya berharap kepengurusan tersebut jauh lebih baik, dan memaklumi kepengurusan ini.

Diketahui konfrensi bulan februari mendatang merupakan konfrensi cabang ke 11, sejak berdirinya hmi mpo cabang barru tahun 1998, organisasi ini penuh dengan dinamika pergerakan dan sempat vakum selama 5 tahun yakni 2007-2012.

 Saat ini ada 4 kandidat bacalon ketum cabang yang diperbincangkan diantaranya Sabta Patra korps pengader, Muhammad iqbal Sekum cabang, Reski nanang ketua komisariat STIA Al gazali dan Abdul mujahidin ketuakomisariat Akper yapi yang memeliki kapasitas dan ruang gerak yang berbeda.

Jumat, 14 Desember 2018

PILEG 2019, IQBAL : Pilih Petarung Jangan Pilih Yang Sembunyi Kalau Di Demo dan Suka Ngusir Wartawan


Dalam Diskusi Evaluasi Kinerja DPRD Barru 2014-2019 di Sekretariat pemuda muslim barru (Btn Coppo Kec.Barru) selamat atas kinerjanya memperjuangkan diri sebagai wakil rakyat kata Iqbal Sekertaris Gerakan Pemuda Muslim Barru.

 Selanjutnya april 2019 nanti kita akan melaksanakan pemilihan umum mulai tingkat daerah sampai pusat serta pilpres, kami menghimbau kepada masyarakat untuk memilih anggota legislatif yang merakyat dan petarung, jangan pilih yang suka sembunyi kalau di demo dan suka usir wartawan.

Kita harus budayakan nilai-nilai demokrasi, untuk apa memilih wakil rakyat yang cenderung hanya mementingkan diri sendiri, dan mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pihak legislatif sebut saja kasus mobil dewan yang tidak ada kesimpulannya hingga hari ini.

Kami juga menyampaikan kepada seluruh caleg untuk perbaiki ikhtiar, jangan banyak menebar sumpah, lebih baik perbanyak ibadah. Iqbal yang juga calon terkuat ketua Hmi Mpo cabang Barru ini sambil bercanda mengatakan, politisi itu tidak pernah percaya sama janjinya, bahkan mereka kaget jika ada masyarakat yang mempercayainya.

Memasuki zaman milenial,Sudah sepatutnya masyarakat menentukan pilihannya tanpa di landasi sikap pragmatis, wajib kita merdeka dalam menentukan pilihan, selanjutnya kita serahkan kepada pihak berkompeten untuk mengawalnya, tutup Iqbal. (Pers/Hmi3)

Kamis, 06 Desember 2018

LA GALIGO DALAM PUSARAN SEJARAH


La Galigo adalah epik terpanjang dunia. Ia wujud sebelum epik Mahabharata. Ia mengandungi sebahagian besar puisi ditulis dalam bahasa bugis lama. Epik ini mengisahkan tentang kisah Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau. La Galigo tidak boleh diterima sebagai teks sejarah kerana ia penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Walaubagaimanapun, ia tetap memberi gambaran kepada sejarahwan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke 14.

Sebahagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan di Eropah, terutamanya di Perpustakaan Leiden. Terdapat juga 600 muka surat tentang epik ini di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, dan jumlah mukasurat yang tersimpan di Eropah dan di yayasan ini adalah 6000 tidak termasuk simpanan oleh orang perseorangan.
Isi kandungan

1 Kitaran Hayat La Galigo
2 La Galigo di Sulawesi Tengah
3 La Galigo Di Sulawesi Tenggara
4 La Galigo Di Gorontalo
5 La Galigo Di Malaysia Dan Riau
6 Rujukan
7 Lihat juga

Kitaran Hayat La Galigo

Ringkasan Salasilah La Galigo

Epik dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulwesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu mesyuarat keluaraga dari beberapa kerajaan termasuklah Senrijawa dan Peretiwi dari alam ghaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelaran Batara Guru. La Toge' langi' kemudiannya berkahwin dengan sepupunya We Nyili'timo', anak kepada Guru ri Selleng, Raja alam ghaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, beliau harus melalui suatu tempoh ujian selama 40 hari 40 malam. Tidak lama kemudiannya, beliau pun turun ke bumi, dikatakan turun di Ussu', sebuah daerah di Luwu' dan terletak di Teluk Bone. Batara Guru kemudiannya digantikan oleh anaknya, La Tiuleng dengan memakai gelaran Batara Lattu'. Beliau kemudiannya mendapat dua orang anak kembar iaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan kembarnya, seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua-dua kembar itu tidak membesar bersama dan kemudian Sawerigading, yang pada mulanya menganggap bahawa We Tenriyabeng tidak mempunyai hubungan darah dengannya, ingin berkahwin dengannya. Tetapi disebabkan ini adalah suatu larangan, dia meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali. Dalam perjalannya ke Kerajaan Cina, beliau telah mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio iaitu Setia Bonga. Sesampainya di Cina, beliau berkahwin dengan Datu Cina iaitu We Cudai.

Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan antara tempat yang dilawati beliau ialah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (Sama ada Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga (kemungkinan Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Beliau juga dikisahkan melawat syurga dan alam ghaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri daripada saudara-maranyadari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tetamu yang pelik seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang berambut di dada.

Sawerigading adalah ayahanda I La Galigo (gelaran Datunna Kelling). I La Galigo juga seperti ayahandanya, seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada tolok bandingan. Beliau mempunyai empat orang isteri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayanhandanya, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.

Anak lelaki I La Galigo iaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu untuk dimahkotakan di Luwu'.

Kitaran epik ini merujuk kepada waktu dimana penempatan Bugis berada di persisiran pantai Sulawesi. Ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Penempatan awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah pula terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahan mengandungi istana dan rumah-rumah orang atasan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Majlis (Baruga) berfungsi untuk tempat bermesyuarat dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing amatlaj dialu-alukan di kerajaan Bugis ketika itu. Selepas membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing boleh berniaga. Selalunya, pemerintah berhak berdagang dengan meraka menggunakan sistem barter, diikiuti golongan atasan atau bangsawan dan kemudiannya orang kebanyakkan. Perhubungan antara kerajaan adalah memalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalunya diarah untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum memikul sebarang tanggungjawab dan Sawerigading dikatakan sebagai model mereka.
La Galigo di Sulawesi Tengah

Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Ini membuktikan bahawa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis iaitu Luwu'.

Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau melawat lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berjaya mengundurkan laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah tasik iaitu Tasi' Buri' (Tasik Buri).

Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu menjemput Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudiannya meminta pertolongan kekandanya yang berada di Luwu'. Sesampainya tentara Luwu', kekanda Bunga Manila mengumumkn bahawa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Walaubagaimanapun, Bunga Manila masih menaruh dendam dan dengan itu mengarahkan anjing beliau, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan kesemua tempat mereka lawati menjadi daratan.

Kisah yang lainnya yang terdapat di Donggala ialah I La Galigo dikatakan terlibat dalam laga ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, beliau berlaga ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae manakala lawannya ialah Baka Cimpolo dan ayam I La Galigo kalah dalam perlagaan itu. I La Galigo kemudiannya meminta pertolongan daripada ayahandanya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, beliau mendapati bahawa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, kerana Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.

Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.
La Galigo Di Sulawesi Tenggara

Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahawa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeza iaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Beliau tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.

Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahawa beliau adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna iaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahawa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang berkahwin dengan Remmangrilangi', bermaksud 'Yang Tinggal Di Syurga'. Terdapat kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, sama ada anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.

Manakala nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).
La Galigo Di Gorontalo

Lagenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut lagenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan ibubapanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahawa kembarnya telah berkahwin dengan raja negeri itu iaitu Hulontalangi. Maka, beliau bersama-sama dengan kekanda iparnya bersetuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membahagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin tentera berkeris manakala Hulontalangi memimpin terntera yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Cina untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, beliau terus berkahwin dengannya.

Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula terlihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudiannya berkahwin dengan gadis itu dan akhirnya meneyedari bahawa gadis itu adalh Rawe dari kerajaan Bugis Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula denhan gelaran Lasandenpapang.
La Galigo Di Malaysia Dan Riau

Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Ia dibawa sendiri oleh Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.

Ketika abad 15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh 'Keraing Semerluki' dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo', dimana nama sebenarnya ialah Sumange'rukka' dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.

Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke 15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dlaam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo'. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta' Arung Palakka dari Bone. Ini menyebabkan ramai Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan Bugis tiba Di Selangor dibawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, seramai 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke 18, Daeng Matokko' dari Peneki, sebuah daerah di Wajo', menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adik beliau, La Ma'dukelleng, juga ke Johor. La Ma'dukelleng juga digelar sebagai Ketua Lanun oleh Belanda.

Walaubagaimanapun, keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka membuat penempatan di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dimahkotakan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Merewah menjadi Yang Dipertuan Riau, Deang Parani berkahwin dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ke tiga), Opu Daeng Menambun (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella' (berkahwin dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).

Pada abad ke 19, sebuah teks Melayu iaitu Tuhfat al-Nafis mengandungi cerita-cerita seperti didalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke', menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan berkahwin dengan Datu Luwu'. Kisah tidak terdapat dalam La Galigo. Walaubagaimnapun, puteranya iaitu Datu Palinge' berkemungkinan sama dengan watak didalam La Galigo.
Sebagai masyarakat barru kita harus berbangga karena naskah La Galigo di tulis oleh salah satu pejuang literasi Retna kencana colliq pujie, wanita asal Barru kerjaan Tanete.

Dikutip dari berbagai sumber.
Yakusa 
Muh. Iqbal

INTELEKTUAL KOLEKTIF DALAM FALSAFAH SIRI' NA PACCE

SAMSURYADI AL BARRU KETUA HMI BADKO SULSELBAR 2018-2020

Siri' Na Pacce merupakan salah satu falsafah budaya Masyarakat Bugis-Makassar yang harus dijunjung tinggi. Apabila siri' na pacce tidak dimiliki seseorang, maka orang tersebut dapat melebihi tingkah laku jauh dari keprimanusiaan, sebab tidak memiliki rasa malu, harga diri, dan kepedulian sosial. Mereka juga hanya ingin menang sendiri dan memperturutkan hawa nafsunya.

Istilah siri' na pacce sebagai sistem nilai budaya sangat abstrak dan sulit untuk didefenisikan karena siri' na pacce hanya bisa dirasakan oleh penganut budaya itu.

Bagi masyarakat Bugis-Makassar, siri' mengajarkan moralitas kesusilaan yang berupa anjuran, larangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk menjaga dan mempertahankan diri dan kehormatannya. Siri' adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, siri' adalah sesuatu yang 'tabu' bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam berinteraksi dengan orang lain, malu dalam kategori kurang faham, bisa juga di artikan luka karena tidak dalam posisi benar, maka rasa siri itu muncul. Siri' sangat erat hubungannya dengan pengetahuan, karena tanpa pengetahuan kita akan merasah kurang pintar, sehingga ada rasa malu untuk mengetahui sesuatu, sehingga tidak melahirkan siri' pada diri. Pada konteks ini siri' adalah menjunjung tinggi Intelektual.

 Sedangkan, pacce mengajarkan rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial tanpa mementingkan diri sendiri dan golongan inil adalah salah satu konsep yang membuat suku Bugis-Makassar mampu bertahan dan disegani diperantauan, pacce merupakan sifat belas kasih dan perasaan menanggung beban dan penderitaan orang lain, kalau istilah dalam bahasa Indonesia "Ringan sama dijinjing berat sama dipikul" budaya ini lah yang di kategorikan kerja kolektif.

Dari aspek ontologi (wujud) budaya siri' na pacce mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan pandangan islam dalam kerangka spiritualitas, dimana kekuatan jiwa dapat teraktualkan melalui penaklukan jiwa atas tubuh. Inti budaya siri' na pacce mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, karena siri' na pacce merupakan jati diri dari orang-orang Bugis-Makassar.

Dengan adanya falsafah dan ideologi siri' na pacce maka keterikatan antar sesama dan kesetiakawanan menjadi lebih kuat, baik dengan sesama suku maupun dengan suku yang lain. Konsep siri' na pacce bukan hanya dianut oleh kedua suku ini (Bugis dan Makassar), tetapi juga dianut oleh suku-suku lain yang mendiami daratan Sulawesi seperti, suku Mandar dan Tator, hanya kosakata dan penyebutannya saja yang berbeda, tetapi falsafah ideologinya memilikii kesamaan dalam berinteraksi dengan sesama.

Berdasarkan jenisnya siri' terbagi atas 2 yaitu:

Siri' Nipakasiri'

Siri' Nipakasiri' terjadi apabila seseorang dihina atau diperlakukan diluar batas kewajaran. Maka ia atau keluarganya harus menegakkan siri'nya untuk mengembalikan kehormatan yang telah dirampas, jika tidak ia akan disebut "mate siri" atau mati harkat dan martabatnya sebagai manusia. Bagi orang Bugis dan Makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi dari pada menjaga siri'nya, mereka lebih senang mati dari pada hidup tanpa siri'. Mati karena mempertahankan siri' disebut "mate nigollai..mate nisantangngi" yang berarti mati secara terhormat untuk mempertahankan harga diri.

Siri' Masiri'

Siri' masiri' yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga dengan mengerahkan segala daya upaya demi siri' itu sendiri. Seperti sebuah penggalan syair sinrili' "Takunjunga' bangung turu'.. Nakugunciri' gulingku.. Kuallengi Tallanga Natoalia" yang berarti "Layarku telah kukembangkang.. kemudiku telah kupasang.. aku memilih tenggelam dari pada melangkah surut".

Semboyan tersebut melambangkan betapa masyarakat Bugis-Makassar memiliki tekad dan keberanian yang tinggi dalam mengarungi kehidupan ini.

Beradasarkan nilai-nilai yang terkandung budaya siri' na pacce terbagi atas 3 yaitu:

Nilai Filosofis.

Nilai Filosofis siri' na pacce adalah gambaran dari pandangan hidup orang-orang Bugis dan Makassar mengenai berbagai persoalan kehidupan yang meliputi watak orang Bugis Makassar yang reaktif, militan, optimis, konsisten, loyal, pemberani dan konstruktif.

Nilai Etis.

Pada nilai-nilai etis siri' na pacce terdapat nilai-nilai yang meliputi: teguh pendirian, setia, tahu diri, jujur, bijak, rendah hati, sopan, cinta dan empati.

Nilai Estetis

Nilai estetis dari siri' na pacce meliputi nilai estetis dalam non insani yang terdiri atas benda alam tak bernyawa, benda alam nabati, dan benda alam hewani

Budaya siri' na pacce adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, untuk menjadi sebuah bangsa yang besar. Untuk itu diperlukan sosok-sosok muda yang memiliki jiwa dan karakter yang mapan karena pemuda adalah calon pemimpin dan pemiliki bangsa ini. Mereka harus memiliki siri' na pacce dalam diri mereka, dengan adanya budaya siri' na pacce anak pemuda bangsa ini akan menjadi lebih peka terhadap segala macam persoalan yang sedang melanda bangsa ini.

Seorang pemimpin yang memiliki budaya siri' na pacce dalam dirinya akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki keberanian serta ketegasan, namun tetap bijaksana dalam memimpin. Seorang pemimpin yang memegang prinsip ini akan membawa bangsa ini menuju kearah yang lebih baik, karena mereka memiliki rasa peka terhadap lingkungan, mampu mendengarkan aspirasi-aspirasi orang-orang yang mereka pimpin karena itu sejalan dengan konsep negara kita yaitu Demokrasi. Salam intelektual kolektif, dikutip dari berbagai sumber (Samsuryadi)

Selasa, 04 Desember 2018

MUHAMMADIYAH, AZAS TUNGGAL, LAHIRNYA HIDAYATULLAH, WAHDAH ISLAMIYAH, DAN DARUL ISTIQOMAH


Pada tahun 1963, ketika Ketua Muhammadiyah Sulsel dijabat oleh Haji Quraisy Djailani, Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara memutuskan membina Pendidikan Kader Ulama. Rencana semula Pendidikan Kader Ulama tersebut ditempatkan di Cabang Bantaeng dan Cabang Rappang. Panitia yang ditunjuk, yaitu Abdul Djabbar Ashiry sebagai Ketua, Haji Muhammad Arsyad Daud sebagai Sekretaris, Kiai Haji Ahmad Makkarausu Amansyah Daeng Ngilau, Haji Abdul Malik Ibrahim, dan Haji Muhammad Nawawi Yazid, masing-masing sebagai anggota.  Namun, kendala kekurangan guru pembina dan dana, program tersebut akhirnya dipindahkan ke Makassar, dan ditempatkan di Perguruan Muhammadiyah Cabang Bontoala, di samping Masjid Raya Makassar.
Setelah berjalan beberapa tahun, Pendidikan Kader Ulama direncanakan dipindahkan ke lokasi baru, di Gombara-Bulurokeng, yang merupakan tanah hibah dari Bupati Maros kala itu. Namun, masalah dana dan pembina kembali menjadi kendala. Alhasil, pendidikan Kader Ulama tersebut tidak jadi dipindahkan sampai akhirnya terhenti dengan sendirinya, setelah menamatkan 27 orang ulama muda Muhammadiyah. Penyebab terhentinya pendidikan kader ulama tersebut adalah terjadinya apa yang dikenal dengan peristiwa “Penggajangan Lotto”. Lotto adalah nama salah satu bentuk perjudian di masa Walikota Makassar, Muhammad Daeng Patompo, pertengahan tahun 1960-an.
Sebagian peserta Pendidikan Kader Ulama Muhammadiyah yang berjumlah 27 orang, terlibat dan menjadi pelopor pengganyangan Lotto pada tahun 1968. Tindakan tersebut dianggap tindakan kriminal, mereka pun diburu dan ditangkapi. Ada yang berhasil dijebloskan ke dalam penjara, ada pula sempat meloloskan diri ke luar daerah.
Salah seorang yang berhasil melarikan diri adalah Mukhsin Kahar. Ia lari ke Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sana, ia mengganti nama  menjadi Abdullah Said. Sebagai mubalig yang memiliki pengetahuan agama yang luas, dia disenangi masyarakat dan diterima pemerintah. Di Balikpapan, Abdullah Said berhasil mendirikan Pondok Pesantren Hidayatullah di atas tanah perbukitan yang gersang. Keberhasilannya menghijaukan lokasi Pesantren tersebut, mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto. Setelah pesantren Hidayatullah berhasil membuka cabang di beberapa daerah, Mukhsin Kahar alias Abdullah Said mendirikan organisasi sosial keagamaan yang diberi nama Hidayatullah.
Meski ada pula peserta Pendidikan Kader Ulama yang tidak ikut dalam pengganyangan Lotto, namun mereka tak lagi melanjutkan pendidikannya. Akhirnya, tamatlah riwayat Pendidikan Kader Ulama yang didirikan, dipimpin, dan dibina oleh KH. Abdul Djabbar Ashiry.
Para Pembina lainnya, yakni: DR. S. Majidi, Kiai Haji Marzuki Hasan dan Kiai Haji Fathul Muin Daeng Maggading yang secara bersama-sama dengan Kiai Haji Abdul Djabbar Ashiry disebut “Imam Empat”, masing-masing membina pengajian atau pesantren di tempatnya.  Dr. S. Majidi membina pengajian di rumahnya, dengan nama pangajian “Orang Baik-Baik”. Pada tahun 1970-an, atas permintaan dari kader-kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Dr. S. Majidi membuka lagi pengajian di Jalan Bandang, Samping Masjid Raya, yang pernah ditempati Pendidikan Kader Ulama yang sudah mati.
Pembina lainnya, Kiai Haji Fathul Muin Daeng Ma’gading, kembali fokus membina pengajiannya di Ta’mirul Masajid. Pengajiannya berlangsung hingga ia meninggal dunia pada tahun 1985. Murid-murid angkatan terakhir yang dibinanya sebelum wafat, itulah yang menjadi cikal bakal pendiri Wahdah Islamiyah. Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Solo, Kiai Haji Fathul Muin Daeng Ma’gading mempermaklumkan kepada murid-murid dan masyarakat secara umum bahwa jika dalam muktamarnya, Muhammadiyah menerima asas tunggal yang diharuskan oleh pemerintah Orde Baru, maka dirinya keluar dari Persyarikatan Muhammadiyah. Beberapa hari sebelum pemberangkatan ke Muktamar, Kiai Haji Fathul Muin Daeng Ma’gading wafat. Muktamar Muhammadiyah pun memutuskan menerima Pancasila sebagai azas organisasinya. Setelah Fathul Muin wafat, dan Muhammadiyah berubah azas, murid-murid Fathul Muin Daeng Ma’gading mendirikan Yayasan Fathul Muin. Yayasan tersebut kegiatannya sama dengan Muhammadiyah, melakukan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, dan membina amal usaha. Yayasan inilah yang dikonversi menjadi organisasi sosial keagamaan Wahdah Islamiyah pada tahun 1998.
Tidak jauh beda dengan kolega “Imam Empat” lainnya, KH. Marzuki Hasan mendirikan pesantren “Darul Istiqamah”Maccopa Maros. Pesantren yang didirikannya itu juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Lokasi pesantrennya di Maccopa terus diperluas, dan saat ini sudah menjadi perkampungan yang dihuni oleh ribuan santri dan warga. Cabang-cabang pesantren ini pun telah pula berdiri di beberapa daerah, bahkan sampai di luar Sulawesi Selatan.***
*) Dikutip dari Buku “Menapak Jejak, Menata Langkah: Sejarah Gerakan dan Biografi Ketua-ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan”, diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah dan Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sulsel.

Rabu, 28 November 2018

Linda : Mari menjadi kohati mar'atusholehah

Foto : Linda Kader HMI Wati Cabang Barru
Linda kader Hmi komisariat STIA Algazali Barru yang baru saja mengikuti pelatihan kader khusus kohati atau Penataran kohati yang dilaksanakan oleh Hmi cabang Majene memberikan kesan tersendiri dalam mewarnai perjalanan kemuslimahan serta pengetahuan yang begitu luas selama ini terbendung serta menurutnya masih samar.

Pasca mengikuti training tersebut ada hal yang begitu menarik disaksikan dalam kehidupan muslimah, yang selama ini hanya menempatkan wanita sebagai manusia kelas kedua, menurut linda ternyata amat banyak peran wanita dalam mewujudkan tatanan masyarakat hingga sampai kehidupan bernegara selalu menjadi perhatian khusus dengan ide gagasan yang tidak sedikit dimotori oleh kaum wanita.

Saya bersama saudara saya Asrah mengikuti Penataran kohati dimajene tidak lain karena panggilan jiwa, hampir 5 jam perjalan menggunakan motor roda dua, tidak ada yang salah dengan menjadi kohati, hal ini insya Allah membulatkan komimen diri untuk menjadi Mar'atusholehah. kami kemudian mengharap semoga teman-teman terus termotivasi, serta mengikuti training seperti ini, khusunya Kader Hmi wati cabang Barru.

Kedepan Insya Allah kami akan melaksanakan kegiatan serupa di Cabang Barru, sehingga nantinya hal ini mendorong untuk dilaksanakan Musyawarah Kohati, dan menjadikan Kohati sebagai lembaga semi otonom Hmi. Tutup Linda.

Formasi jilid II Mendesak KEJATI mengusut tuntas kasus korupsi di Barru

Foto 1: Rudy kahar di Nomnom cafe (28/11)
Formasi jilid II Mendesak KEJATI mengusut tuntas kasus korupsi di Barru

Hal ini di sampaikan langsung oleh Bung Rudy selaku penanggung jawab Forum Masyarakat Anti Korupsi Barru kepada Pers.

“Kami mendesak pihak Kejati untuk serius mengusut tuntas kasus dugaan korupsi, termasuk dugaan korupsi yang ada di Kabupaten Barru dan kasus 22 Unit Mobil DPRD Barru yang belum ada kesimpulan” Kata Rudi.

Rudy yang juga mantan aktivis UMI berharap agar kiranya pihak kejaksaan tidak pandang bulu dalam mengusut kasus dugaan korupsi di kabupaten Barru

Selain itu Rudy juga berharap agar pihak kejati segera menuntaskan kasus Mobil DPRD belum jelas penyelesaian yang pengadaan dan pengembaliannya tidak ada kesimpulan

“Kasus mobil telah lama di limpahkan dikejaksaan namun kasus tersebut mandek dan belum terproses oleh Pihak Kejati"

“Kasus tersebut sudah hampir 2 tahun bergulir namun sikap penegak hukum belum menunjukkan keseriusan dalam menuntaskannya"

Diketahui kasus  ini menelan anggaran sebesar Rp4,4 Miliar, dari hasil tersebut tidak jelas peruntukan dan penyelesaiannya, dikarenakan mekanisme yang keliru serta pengembalian tanpa adanya kesimpulan yang membuat masyarakat bingung.

Sederhananya, bahwa setiap pelanggaran hukum yang menggunakan uang negara maka patut diduga terdapat tindak pidana didalamnya. namun hingga kini kasus tersebut masih di tutupi tanpa penyelesaian, kita hanya perlu transparansi para penegak hukum, tutup Rudy. (Rgb/iqb)

Warga Barru Keluhkan Sapi Berkeliaran di Alun-alun

Foto : Sapi Berkeliaran bebas pada malam hari di Alun-alun Colliq pujie (28/11)

Sepekan terakhir ini, warga pengunjung Alun-alun colliq pujie Kabupaten Barru  mengeluhkan sapi  yang berkeliaran pada malam hari, Salah satunya sering terlihat di sepanjang jalan AP. Pettarani.

Suri mengatakan,  kami mengeluh sapi-sapi tersebut karena dibiarkan berkeliaran dan memakan tanaman warga. Dan bukan itu saja, menurutnya keberadaan sapi yang terkesan dipelihara dengan cara dilepas ini juga mengganggu lalu lintas kendaraan, di jalan Pettarani Barru.

”Bagi yang punya tolong diakui sapi ini milik siapa, dan di ternak baik baik” ucap suri rabu (28/11). Karena lanjutnya,  sampai sepekan terakhir ini sapi-sapi tersebut tidak ada yang mengaku siapa pemiliknya, dan keberadaan sapi ini sudah merugikan, karena memakan tanaman warga.
Foto 2: Sapi di sekitar taman rumput dekat  lampu sorot.

”Selain itu keberadaan binatang ternak ini juga mengganggu kenyaman warga karena dari kotorannya di Alun-alun yang di tentunya berbau,” tambah Suri

Dianggap tidak ada tuannya Atas pernyataan ini, banyak tanggapan agar yang memiliki sapi segera dipelihara atau dikandangkan. Selain itu ada juga yang menanggapi apabila tidak ada yang mengakuinya, sapi ini sepertinya sengaja dilepas kalau menghampiri tengah malam, Permasalahan sapi ternak yang dibiarkan berkeliaran ini juga dikeluhkan di  beberapa titik bahkan ada yang hampir tertabrak oleh pengendara motor dan mobil.Sapi- sapi tersebut juga masuk ke are perumahan sekitar yang jumlahnya diperkirakan ratusan ekor. (Ab/uts)

Minggu, 25 November 2018

SAMSURYADI Al Barru minta DPRD Barru cabut penolakan Pembangunan Stadion Ramang

Foto : Samsuryadi sebagai pembaca doa pada Dialog Publik Gappembar (24/11)

SAMSURYADI Al Barru minta DPRD Barru cabut penolakan Pembangunan Stadion Ramang

Enam fraksi yang kompak menolak pembangunan Stadion yang bakal menjadi kebanggaan Barru bahkan Sulawesi Selatan.

Samsuryadi, Ketua HMI MPO Sulselbar ini menyayangkan hal itu, padahal menurutnya Stadion itu sangat didambakan  masyarakat sesuai janji Bupati Barru dalam sambutannya di setiap kegiatan kepemudaan dan olahraga.

Iya menyebut  pembangunan Stadion tidak hanya sebagai ikon macan bola internasional asal Barru Ramang dan Stadion itu juga bakal bernama Stadion Ramang.

Ramang salah satu atlit dimasa hindia belanda yang turut mengharumkan nama bangsa, dan juga sebagai pencetus Rapat pemuda lewat sepak bola, di zamannya para pemuda pejuang pusing mencari tempat untuk rapat perlawanan terhadap penjajah karena setiap rapat ada yang mengrebek, dan ramang memulainya dengan rapat sambil memainkan bola bersama para pejuang di masa itu. Jejak historis ramang juga pernah mewakili Hindia Belanda dalam Piala dunia tahun 30an.
Tahun 2018 Suardi saleh Bupati Barru merencanakan membuat stadion bernama ramang namun akhirnya kandas akibat 6 fraksi DPRD Kab.Barru. Semestinya Dewan tidak cepat memutuskan untuk menolak pembangunan Stadion tersebut. Padahal Stadion dambaan kita sebagai penghargaan, dimana lahir sosok macan Bola dari Barru, PSM sudah melabeli dirinya sebagai wija ramang, patung ramang sudah diabadikan dilosari, tapi kenapa stadion ramang tidak bisa dihadirkan dibarru, kata Samsuryadi

Sebelumnya 6 Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barru menolak pembangunan Stadion yang rencannya berlokasi di Lajulo,Kelurahan Sepee, Kecamatan Barru,Kabupaten Barru.

6 Fraksi itu menurut Anggota DPRD Barru dari Fraksi DPRD Barru Rifai Muin menolak pembangunan tersebut karena masih banyak kebutuhan lain yang dianggap prioritas.

Juga kata Rifai, terkait angka kemiskinan di Barru yang perlu perhatian  dibanding pembangunan stadion.

Samsuryadi melanjutkan, sejatinya proses pembangunan stadion ramang jangan di tolak, pembangunannya bisa dilakukan fase perfase, nanti kalau stadion sudah jadi, peruntukannya tidak hanya untuk sepakbola saja, tapi PORDA SULSEL pun Barru bisa jadi tuan Rumah, Kalau alAndi Muh Rum Bisa buat Pelabuhan dan pasar, Andi Idris bisa Buat alun-alun dan Islamic Center di Zamannya, Kenapa Suardi saleh tidak bisa bangun Stadion sebagai icon Barru yang lebih Maju. tutup mantan ketua HMI cabang Barru 2015-2016 ini. (Pers HMI)

Minggu, 30 September 2018

HMI MPO, GAPPEMBAR, KEMBAR, DAN HOMEBASE AKSI PEDULI PALU

foto perhitungan dana kemanusiaan untuk palu pasca aksi 

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi peduli sulawesi tengah melakukan penggalangan dana di kota barru, tepatnya pukul 10.00 wita sampai dengan 13.00 wita, aksi yang diberi nama gerakan peduli sulteng ini dilaksanakan oleh HMI MPO Cabang Barru, GAPPEMBAR Kom II Barru, Kerukunan Mahasiswa Barru (KE-M-BAR) dan komunitas HOMBASE Kota Barru.
Muhammad Reski selaku koordinator Aksi menyampaikan bahwa kgiatan ini adalah aksi damai yang dirangkaikan long mars ke tugu payung, open donasi, penggalangan dana, serta orasi ilmiah.
Ketua cabang HMI MPO ini juga menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh pengguna jalan yang telah menyempatkan menyumbangkan donasi hingga terkumpul lebih 4 juta rupiah dalam kurung waktu 3 jam, Selanjutnya donasi ini akan kami teruskan ke Kota palu melalui jalur PB HMI yang juga melakukan open donasi bersama seluruh cabang HMI seindonesia,lanjutnya.
Awi perwakilan Kerukunan Mahasiswa Barru (KEMBAR), menyampaikankegiatan ini di fokuskan di perempatan lampu merah kota barru, dan pasar sentral mattirowalie, kami juga memohon maaf kepada pengguna jalan atas aksi ini jika kami melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban. kegiatan ini semata-mata demi mewujudkan persaudaraan dan rasa kemanusiaan untuk saudara kita di sulawesi tengah yang terkena dampak tsunami dan gempa, tutup awi.

Selasa, 01 Mei 2018

HMI Cabang barru resmi dilantik 2018-2019 resmi dilantik

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Barru masa pengurusan 2018-2019 resmi dilantik, Selasa (1/5/2018).
Pelantikan ini sekaligus digelar Intermediate Training se-Indonesia Timur bertema “HMI sebagai kiblat intelektual mahasiswa ikhtiar mewujudkan HMI sebagai aset bangsa berkemajuan” yang digelardi Baruga Bola Sobae, Jalan Sultan Hasanuddin, Barru.

“Hari ini kami dilantik langsung oleh Sekjen PB HMI MPO Najamuddin Arfah sekaligus pembukaan intermediate training se Indonesia Timur,” kata Sekretaris HMI MPO Cabang Barru, Muh. Iqbal
Iqbal mengatakan, pengurus yang dilantik ini harus merawat nilai-nilai pengkaderan, sehingga dapat melahirkan kader-kader intelektual dan menjadi aset bangsa ke depan.
Adapun peserta Intermediate Training ini banyak diikuti peserta dari luar daerah. Bahkan pada kesempatan ini, turut dihadiri mantan Ketua Badko HMI Indonesia Timur Jamal Passalowongi.  
Terkhusus untuk kegiatan training ini akan dilaksanakan hingga 8 Mei mendatang, peserta berasal dari Pangkep, Kendari, Majenne dan juga Barru sendiri,” ucapnya.

Bawa materi di LK II ANDI ARIADI ingatkan peserta jangan plagiat.


Rabu 2 mei 2018, Andi ariadi membawa materi di LK II HMI Se Indomesia Timur,
salah satu materi yang di uraikan yakni metode penulisan karya ilmiah,  materi ini merupakan bekal bagi semua mahasiswa khususnya mahasiswa tingkat akhir, sasaran sesungguhnya pada proses penulisan karya ilmiah hanya ada tiga yaitu data, referensi, dan informasi.
Sehingga alasan kita mengangkat sebuah judul bisa menggunakan variabel objektif.
dalam pesannya andi ariadi yang juga mantan ketua bem STIA al gazali Barru ini mengingatkan mahasiswa jangan plagiat, opini kita jauh lebih naik daripada plagiat.
Kegiatan LK II intermediate training ini dihadiri dari kendari, pangkep, majene dan cabang barru berjumlah 20 peserta.